Httpswww.canva .com 9 1024x538

Ini Yang Terjadi Kalau Kamu Dekat Dengan Tuhan

Setiap manusia punya satu dorongan paling dasar yaitu ingin bahagia. Namun ada pola yang sering tidak kita sadari. Semakin keras kita mengejar kebahagiaan, semakin sering kita merasa kurang. Ini bukan semata karena kita belum cukup berhasil, tetapi karena arah pencariannya sejak awal sudah meleset.

Akar masalahnya bukan pada dunia luar, melainkan pada cara pikiran kita bekerja. Kita menghabiskan energi untuk mencemaskan masa depan yang belum tentu terjadi, sambil terus memutar ulang masa lalu yang sudah selesai. Akhirnya kita hidup di dua dimensi yang tidak nyata, dan kehilangan satu-satunya ruang di mana kebahagiaan bisa benar-benar dirasakan, yaitu saat ini.

Selama kebahagiaan kita bergantung pada sesuatu yang sifatnya sementara seperti uang, status, atau pengakuan, maka kebahagiaan itu akan selalu rapuh. Semua itu bisa berubah, hilang, atau bahkan tidak pernah benar-benar kita miliki sepenuhnya.

Dalam Bhāgavata Purāṇa 2.9.3 dijelaskan dengan sangat tegas:
yarhi vāva mahimni sve
parasmin kāla-māyayoḥ
rameta gata-sammohas
tyaktvodāste tadobhayam

“Bilamana seseorang telah mantap dalam kemuliaan dirinya sendiri yang bersifat rohani, maka ia akan menikmati kebahagiaan sejati. Pada saat itu, ia terbebas dari segala khayalan dan melepaskan keterikatannya, sehingga ia mampu melampaui pengaruh waktu maupun energi material (maya)”

Pesan dari sloka ini langsung pada inti persoalan. Kebahagiaan sejati tidak berasal dari apa yang kita kumpulkan di luar, tetapi dari seberapa stabil kita mengenali diri kita yang sebenarnya. Ketika seseorang tidak lagi mendefinisikan dirinya dari peran, pencapaian, atau penilaian orang lain, terjadi pergeseran yang sangat mendasar dalam cara ia mengalami hidup.

Pikirannya menjadi lebih tenang karena tidak terus bereaksi terhadap perubahan. Rasa takut terhadap masa depan melemah karena ia tidak lagi menggantungkan dirinya pada hasil. Penyesalan masa lalu kehilangan pengaruhnya karena tidak lagi dijadikan identitas.

Inilah kondisi bebas dari khayalan dan keterikatan yang dimaksud. Seseorang tetap hidup di dunia yang sama, tetapi tidak lagi diperbudak olehnya. Ia tetap bekerja, berusaha, dan berinteraksi, namun pusat dirinya tidak lagi goyah oleh naik turunnya keadaan.

Pada titik ini, kebahagiaan tidak lagi menjadi sesuatu yang harus dikejar. Ia muncul sebagai konsekuensi dari kejernihan melihat diri dan realitas apa adanya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *