Ini Empat Praktik Yang Harus Kamu Lakukan Untuk Memulai Mencari Tuhan
Banyak orang ingin dekat dengan Tuhan, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Mereka menunggu pencerahan datang sendiri, menunggu waktu yang tepat, menunggu kondisi batin yang sudah tenang. Padahal justru di sanalah letak kekeliruannya. Kedekatan dengan Tuhan bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya. Ia adalah hasil dari praktik yang dilakukan terus-menerus, dengan pikiran yang tidak terbagi.
Bhāgavata Purāṇa 1.2.14 menyatakan dengan tegas:
tasmād ekena manasā
bhagavān sātvatāṁ patiḥ
śrotavyaḥ kīrtitavyaś ca
dhyeyaḥ pūjyaś ca nityadā
“Oleh karena itu, dengan pikiran yang terpusat, Bhagavān, sang pelindung para penyembah, hendaknya senantiasa didengar kisah-Nya, dipuji keagungan-Nya, direnungkan kehadiran-Nya, dan disembah setiap saat.”
Sloka ini tidak bicara tentang ritual yang rumit. Ia bicara tentang empat tindakan sederhana yang bila dilakukan dengan ekena manasā, dengan satu pikiran yang bulat, akan membawa seseorang semakin dekat kepada sumber dari segala keberadaan. Pertama, śravaṇa, mendengar. Bukan sekadar mendengar suara, melainkan membuka diri terhadap kebenaran tentang Tuhan melalui kisah, ajaran, dan nama-Nya. Kedua, kīrtana, memuji. Ketika lidah terbiasa menyebut keagungan-Nya, pikiran perlahan belajar untuk menetap di sana. Ketiga, dhyāna, merenungkan. Membawa kesadaran ke dalam, mengarahkan perhatian kepada kehadiran Tuhan yang tidak pernah benar-benar jauh. Keempat, pūjā, menyembah. Menjadikan setiap tindakan penghormatan sebagai pengakuan bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar dari diri sendiri.
Yang membuat keempat praktik ini berbeda dari sekadar kebiasaan religius adalah kata nityadā, setiap saat. Bukan hanya di pura. Bukan hanya di hari-hari suci. Melainkan dalam keseharian, dalam keheningan pagi, dalam lelahnya malam, dalam setiap celah waktu yang kamu miliki.

Post Comment