Seseorang bangun pagi dengan jadwal penuh, tidur malam dengan rasa lelah yang dianggap sebagai bukti kerja keras. Ia bangga. Lingkungannya bangga. Dan tidak ada yang bertanya apakah semua itu benar-benar membawanya ke suatu tempat yang berarti.
Prahlāda Mahārāja pernah berbicara kepada teman-teman sebayanya — bukan kepada para pertapa, bukan kepada yang sudah tua. Kepada mereka yang usianya masih panjang, yang hidupnya masih terbentang luas di depan. Dan justru kepada merekalah ia berkata:
tat-prayāso na kartavyo
yata āyur-vyayaḥ param
na tathā vindate kṣemaṁ
mukunda-caraṇāmbujam
“Usaha yang hanya menghabiskan usia demi hal-hal duniawi tidak seharusnya dilakukan, karena dengan cara demikian seseorang tidak akan pernah memperoleh kebaikan yang sejati.”
— Bhāgavata Purāṇa 7.6.4
Yang membuat sloka ini berat bukan karena ia berbicara soal dosa. Ia berbicara soal sesuatu yang lebih menakutkan dari itu — pemborosan. Kata yang dipakai adalah āyur-vyayaḥ, pemborosan usia. Bukan uang yang habis, bukan tenaga yang terkuras. Tapi usia. Karena uang bisa kembali, tenaga bisa pulih — namun satu hari yang telah berlalu tidak akan pernah ada lagi.
Seseorang bisa bekerja keras sepanjang hidupnya dan tetap tidak menemukan kṣema — kebaikan yang sejati, kedamaian yang tidak bergantung pada kondisi luar. Bukan karena ia tidak cukup berusaha, melainkan karena ia tidak pernah berhenti sejenak untuk bertanya ke mana arah semua usaha itu.
Ini bukan ajaran untuk berhenti bergerak. Ini adalah undangan untuk menjadi sadar — bahwa hidup yang diisi penuh belum tentu hidup yang bermakna.
Pada akhirnya, yang dihitung bukan seberapa banyak yang berhasil diraih. Tapi seberapa sadar ia menjalani setiap langkahnya.
