Httpswww.canva .com 7 1024x538

Bahaya Mengikut Pemimpin Bodoh. Orang Hindu Wajib Baca Ini

Sejak kecil, kita selalu mencari sosok untuk dijadikan panutan. Orang tua, guru, tokoh masyarakat — semua menjadi cermin tentang bagaimana seharusnya seseorang menjalani hidup. Dalam tradisi Hindu, hal ini bahkan diakui secara terang-terangan. Guru bukan sekadar pengajar ilmu, melainkan jembatan antara jiwa yang sedang dalam perjalanan dengan kebenaran yang sedang ia cari.

Masalahnya, tidak semua orang yang berdiri di depan dan berbicara dengan lantang adalah pemimpin yang layak diikuti.

Banyak pemimpin yang awalnya memang tulus. Namun di satu titik, sesuatu bergeser. Pujian terus mengalir tanpa koreksi. Lingkaran terdekat sudah tidak berani berbeda pendapat. Dan tanpa disadari, pemimpin itu mulai jatuh ke dalam kegelapannya sendiri — sementara para pengikutnya masih setia berjalan di belakangnya menuju jurang yang sama.

Ribuan tahun lalu, Bhāgavata Purāṇa telah memperingatkan hal ini dengan sangat jelas. Dalam kitab Bhāgavata Purāṇa 6.7.14:
teṣāṁ kupatha-deṣṭṝṇāṁ
patatāṁ tamasi hy adhaḥ
ye śraddadhyur vacas te vai
majjanty aśma-plavā iva

“Mereka yang mempercayai ajaran para pemimpin sesat — yang sendirinya sedang jatuh ke dalam kegelapan — sesungguhnya akan tenggelam pula, bagaikan seseorang yang menggunakan perahu dari batu.”

Sloka ini memukul dari dua arah sekaligus. Pertama, ia menggambarkan pemimpin yang sedang patatām tamasi adhaḥ — jatuh ke dalam kegelapan — namun tetap merasa berhak menunjukkan jalan kepada orang lain. Kedua, ia menggambarkan pengikut yang śraddadhyuḥ — percaya dengan tulus dan sungguh-sungguh. Kehancuran tidak datang karena pengikut itu jahat. Ia datang justru karena mereka terlalu percaya kepada orang yang salah.

Perumpamaan aśma-plavā iva, perahu dari batu, adalah yang paling tajam. Tidak peduli seberapa keras seseorang mendayung, perahu dari batu tetap akan menenggelamkan semuanya. Karena masalahnya bukan pada usahanya — melainkan pada fondasi yang ia pilih sejak awal.

Seorang guru sejati membawa muridnya menuju cahaya. Bukan yang membuat muridnya tidak bisa hidup tanpanya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *