Httpswww.canva .com 5 1024x538

Tuhan Tidak Ingin Hidup Kita Panjang Umur, Sebab Ini Yang Terpenting

Kebanyakan orang menghabiskan hidupnya meminta panjang umur — tapi tidak pernah bertanya, “untuk apa umur itu dipakai?”.

Ada yang hidup tujuh puluh tahun, tapi kesadarannya tidak pernah benar-benar hadir. Bangun pagi, bekerja, tidur, lalu terulang lagi. Tahun demi tahun berlalu seperti air mengalir di bawah jembatan — deras, tapi tidak meninggalkan bekas apa pun di dalam dirinya. Bhāgavata Purāṇa menyebut orang seperti ini dengan satu kata yang berat: pramatta atau yang lalai, yang mabuk oleh kelengahan, yang hadir secara fisik tapi tidak pernah hadir secara batin.

Dan kepada orang seperti itu, kitab suci Bhāgavata Purāṇa 2.1.12 memberikan pernyataan dengan nada yang hampir seperti tantangan:

kiṁ pramattasya bahubhiḥ
parokṣair hāyanair iha
varaṁ muhūrtaṁ viditaṁ
ghaṭate śreyase yataḥ

“Apa gunanya bertahun-tahun hidup bagi orang yang lalai? Lebih baik satu momen (hidup singkat ) saja yang dijalani dengan penuh kesadaran — karena dari situlah śreyas, kebaikan sejati, dapat terwujud.”

Bhāgavata Purāṇa bukan menuntut panjangnya waktu. Yang dituntut adalah kualitas kehadiran di dalam waktu itu. Satu muhūrta — satu momen kecil — yang dijalani dengan kesadaran penuh, dengan ingatan akan Yang Ilahi, dengan niat yang lurus, nilainya melampaui puluhan tahun yang dihabiskan tanpa kesadaran pada yang Ilahi.

Bhāgavata Purāṇa bukan ajaran untuk berputus asa dari kehidupan panjang. Ini adalah koreksi arah. Bukan soal berapa lama kamu hidup — tapi apakah kamu benar-benar hidup di dalam setiap momen yang diberikan. Umur panjang tanpa kesadaran adalah kekosongan yang panjang.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *