Ada orang yang hafal ratusan śāstra, fasih berbicara tentang Tuhan di depan umum, dan merasa spiritualitasnya sudah di level tinggi — tapi justru semakin jauh dari yang ia bicarakan. Bukan karena ia tidak cerdas. Bukan karena pengetahuannya salah. Tapi karena ada sesuatu yang tumbuh diam-diam di dalam dirinya setiap kali ia bertambah pintar, bertambah kaya, atau bertambah dihormati — dan sesuatu itu menghalanginya.
Bhāgavata Purāṇa menyebutnya dengan terang. Ini bukan kata-kata sembarang orang — ini adalah doa Kuntī, seorang perempuan yang telah kehilangan hampir segalanya, yang justru karena itu bisa melihat dengan jernih apa yang tidak bisa dilihat oleh mereka yang sedang di puncak:
janmaiśvarya-śruta-śrībhir
edhamāna-madaḥ pumān
naivārhaty abhidhātuṁ vai
tvām akiñcana-gocaram
“Seseorang yang kesombongannya terus membengkak karena kelahiran mulia, kekayaan, pengetahuan, dan keindahan duniawi — ia sungguh tidak layak menyebut nama-Mu, apalagi mendekati-Mu — Engkau yang hanya terjangkau oleh mereka yang kosong dari segalanya.” (Bhāgavata Purāṇa 1.8.26)
Perhatikan kata edhamāna — bukan sekadar “sombong”, tapi sombong yang terus bertumbuh, yang menggelembung seiring bertambahnya pencapaian. Inilah yang berbahaya: bukan kejahatan yang kasar, tapi kesombongan halus yang justru ikut tumbuh bersama prestasi. Semakin kamu naik, semakin ia ikut naik — diam-diam, tanpa terasa. Dan kata akiñcana di ujung śloka ini seperti pisau: Tuhan hanya gocaram, hanya terjangkau, oleh mereka yang tidak memiliki apa-apa — bukan dalam arti miskin secara materi, tapi kosong dari klaim atas diri sendiri.
Kuntī tidak mendapat Kṛṣṇa di saat kejayaan. Ia mendapat Kṛṣṇa di saat pengasingan, pengkhianatan, dan kehilangan. Dan ia sadar: justru itulah yang membuka pintunya. Penderitaan bukan hukuman — ia adalah pengosongan. Dan hanya wadah yang kosong yang bisa diisi.
Dunia hari ini mengajarkan hal yang sebaliknya. Kamu disuruh membangun personal brand, mempertebal kredensial, memperluas jaringan — dan semua itu tidak salah. Tapi ada harga tersembunyi yang jarang disebut: setiap lapisan yang kamu tambahkan di luar, bisa menjadi dinding yang memisahkanmu dari Tuhan. Bukan pencapaiannya yang jadi masalah — tapi madaḥ yang ikut tumbuh bersamanya.
Yang paling dekat dengan Tuhan bukan yang paling banyak tahu. Tapi yang paling jujur tentang betapa sedikitnya yang ia miliki.
