Terkadang dalam hidup ini, kamu sudah mendengarkan ratusan hal mulai dari pekerjaan, berita, dan lainnya, dan masalahnya adalah hampir semuanya tidak akan kamu ingat minggu depan. Loh kok bisa?
Ada sebuah pola yang jarang disadari, yakni manusia di era sekarang pada dasarnya tidak kekurangan informasi, tidak kekurangan konten, tidak kekurangan kata-kata. Yang langka justru adalah mendengar sesuatu yang benar-benar masuk ke dalam diri yang mengubah cara kamu melihat dirimu sendiri, mengubah cara kamu berdiri di hadapan hidup.
Bhāgavata Purāṇa 2.3.20 berkata dengan cara yang sangat jujur dalam hal ini:
bile batorukrama-vikramān ya
na śṛṇvataḥ karṇa-puṭe narasya
jihvāsatī dārdurikeva sūta
na copagāyaty urugāya-gāthāḥ
“Telinga seseorang yang tidak mendengar keagungan Tuhan — hanyalah lubang. Dan lidahnya, tak lebih dari lidah katak — yang terus bersuara, tanpa makna yang melampaui dirinya sendiri.”
Katak dalam sastra Sanskerta bukan simbol ketenangan kolam — ia simbol kebisingan yang masif, konsisten, dan hampa. Ia bersuara karena memang begitulah sifatnya, bukan karena ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. Dan Bhāgavata mengatakan bahwa itulah yang terjadi pada manusia yang hidupnya penuh kata-kata, namun tidak ada satu pun yang berakar pada sesuatu yang lebih dalam dari ego dan kebiasaan.
Ini bukan ajaran untuk diam. Tapi maksud Bhāgavata Purāṇa adalah menunjukkan ajaran tentang arah. Telinga punya kapasitas untuk mendengar hal-hal yang mengubah jiwa — dan lidah punya kapasitas untuk mengucapkan hal-hal yang menjadi terang bagi orang lain. Kapasitas itu ada. Tapi ia tidak akan aktif dengan sendirinya, selama kita terus mengisinya dengan apapun yang datang.
Lantas apa yang kita bisa lakukan? Kita perlu mengarahkan kecenderungan telinga dan lidah kita untuk mendengar dan berucap sesuatu yang bermakna. Berhenti mendengarkan hal hal yang tidak menyebabkan rasa cinta kita kepada Tuhan meningkat, dan cukup berkata secukupnya saja.
